Kampus Entrepreneur Penghafal Al-Quran - KEPQ


Kampus Entrepreneur Penghafal Al-Quran - KEPQ
Kampus Enterpreneur Penghafal Al-Qur’an (KEPQ) adalah ikhtiar YAYASAN NURUL HAYAT dalam memberikan pembekalan kepada para Penghafal Qur’an untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera lewat pendidikan enterpreneurship.

Indonesia merupakan Negara terbanyak dalam jumlah lembaga pendidikan pondok pesantren. Di jawa Timur saja pada tahun 2005 tercatat ada 3.582 Pondok pesantren yang terdaftar di departemen Agama. Diantara ribuan Pesantren tersebut, ada yang menjadikan Penghafalan Al-Qur’an sebagai salah satu kurikulum (jurusan). Dan banyak pula pesantren yang hanya mengkhususkan untuk Penghafalan Al-Qur’an (Pondok Pesantren Tahfidz).

Setiap tahun, ada ratusan remaja penghafal Al-Qur’an lulus dari pondok pesantren tersebut. Selama ini mereka menghabiskan waktunya di pondok pesantren untuk menghafal kalam-kalam Allah. Berdasar wawancara dengan 25 orang khuffadz yang selama ini dibina oleh Yayasan Nurul Hayat, rata – rata mereka mengaku menempuh pendidikan dunia pesantren hifdzul Qur’an mulai dari lulus SD. Artinya, hampir seluruh usia bangku sekolah mereka (SMP dan SMU) dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an.

Kesungguhan dan ketekunan mereka menghafal Al-Qur’an telah mengantarkan mereka menjadi seorang yang dalam pandangan agama Islam sebagai “manusia mulia”. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kemampuan menghafal Al-Qur’an selalu berbanding lurus dengan kebaikan amal dan kemampuan menahan perbuatan dosa si penghafal. Tidak akan bisa menghafal Al-Qur’an dengan lancar orang yang tidak punya ghirah ketaatan dan ketundukan kepada Allah.

Namun demikian, di tengah penghargaan dan penghormatan agama kepada para penghafal Al-Qur’an tersebut, ada celah yang masih memunculkan keprihatinan kita bersama. Fakta dilapangan, secara materi, mereka jauh dari kesan orang-orang yang dimuliakan (Setidaknya memuliakan itu mengacu kepada perhormatan-penghormatan yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabat generasi awal kepada penghafal Al-Qur’an). Sebagian mereka hidup dalam kondisi yang kadang dibawah standart layak.

Ada dua faktor penyebab yang saling berkaitan. Pertama, rendahnya kesadaran ummat memberikan penghargaan kepada mereka. Ketekunannya dalam menjaga kalam-kalam Allah, semestinya dilihat sebagai bagian dari dakwah Islam yang perlu didukung sebagaimana dakwah-dakwah Islam lainnya. Kedua, dan ini yang lebih menentukan, ketekunan dalam menghafal Al-Qur’an cukup menyita waktu mereka sehingga minim sekali kesiapan kompetensi diri ketika lulus dari Pondok Pesantren. Khususnya dalam kompetensi dunia kerja.
Akan tetapi sekali lagi perlu ditekankan, alasan kedua ini sesungguhnya bukan sebuah kekurangan apalagi jangan sampai dipersalahkan. Mereka telah menempuh jalan hidup mulia dengan menghafal Al-Qur’annya.

Entrepreneurship, Solusi Nyata
Gagasan pendirian Pesantren ini lahir dari rasa simpati NURUL HAYAT terhadap kondisi para alumnus penghafal Al-Qur’an (dari Pondok Pesantren) ketika kembali ke lingkungan sosial sebenarnya itu. Keterbatasan kompetensi kerja, membuat mereka kadang tersisih dalam persaingan dunia kerja.
Di tambah lagi, mereka tak memilki kecukupan modal karena sebagian besar berasal dari kalangan menengah kebawah. Data statistic departemen Agama pada tahun 2005 menunjukkan sebanyak 740.883 keluarga mereka berpenghasilan rata-rata di bawah 200 ribu/ bulan.

Ketika kembali kerumah, kondisi tersebut menyeret mereka menjadi pekerja serabutan yang kadang sampai menghilangkan ingatan hafalan Al-Qur’annya. Sebagian besar juga, mereka kemudian menjadi pengangguran.
MAKA TAK SEHARUSNYA mereka bersusah-susah tanpa ada yang memperhatikan. Kampus Entreprenuer Penghafal Al-Qur’an adalah ikhtiar Nurul Hayat membantu para Penghafal Qur’an -yang Rasulullah menyebut mereka sebagai “keluarga-keluarga Allah di Bumi”- untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik dan layak. Nurul Hayat berusaha mengambil peran untuk mengembalikan mereka kepada kesejahteraan hidup sebagaimana yang dialami para penghafal Al-Qur’an di masa-masa keemasan Islam di abad pertengahan dulu.
Dalam kampus ini, Nurul Hayat membimbing mereka mengembangkan kompetensi diri seraya tetap memberikan pengayaan terhadap paham keislaman mereka (semisal belajar ilmu tafsir dan hadist)

Tak semua lulusan pesantren ini nantinya harus menjadi entrepreneur. Tapi mudah-mudahan dengan kecukupan modal dan kecakapan kompetensi, akan membuat mereka menjadi seorang profesional yang berkualitas dan berdaya saing. Insya Alloh.